GRESIK, Berita Utama- Penguatan karakter sangat penting untuk mengikis tiga dosa besar pendidikan yakni perundungan, pelecehan seksual dan intoleransi. Hal tersebut dikatakan Prof Zainuddin Maliki ketika menjadi salah satu narasumber dalam seminar pendidikan dengan tema problematik ‘Tiga Dosa Besar Pendidikan’ yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Gresik berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan (Dispendik) Gresik di Gedung Nasional Indonesia (GNI), Senin (17/07/2023) .
“Itu yang selalu saya tekankan kepada Kementerian, agar penguatan karakter menjadi salah satu prioritas,” tandas dia.
Anggota Komisi X DPR RI tersebut menyoroti terkait kurikulum yang saat ini hanya berfokus pada penilaian literasi dan numerasi. Sementara karakter hanya dilihat dari survei.
“Akar permasalahannya ada di karakter. Dan penguatan karakter itu harus dilakukan pendalaman. Tidak bisa hanya disurvei, harus everyday dilakukan. Pembenahan karakter dibutuhkan kemauan, kesungguhan dan pembiasaan. Butuh waktu,” tegasnya.
Sedangkan Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani (Gus Yani) sebagai nara sumber mengatakan, pendidikan bukan hanya sekadar membuat siswa bisa menjadi cerdas, melainkan menjadikan siswa atau anak-anak yang terdidik sejak usia dini. Dalam hal ini, seluruh pihak didorong untuk memberikan pendidikan secara inklusif kepada peserta didik.
“Artinya, dari lingkungan sekolah, guru, kepala sekolah, seluruh stake holder juga harus mampu dan terus bisa belajar memberikan pendidikan yang inklusif. Apa itu? merubah sistem pemyelenggaraan tersebut. Jangan jadikan murid kita sebuah objek pendidikan, gurune kudu sekolah terus. Gurune dewe harus kaya baca, harus mengeksplor dirinya juga,” kata dia .
Selain itu, Bupati Gresik juga mengajak para orang tua untuk merubah mindset berpikir bagaimana agar bisa menjadi sosok yang diidolakan oleh anak-anaknya. Dia kemudian menceritakan bagaimana mendidik kedua anaknya ditengah-tengah padatnya aktivitas.
“Jadilah orang tua yang diidolakan oleh anak kita. Saya selalu berusaha menjadi orang tua yang menjadi idola anak saya, artinya saya harus memberikan keteladanan pada anak saya. krungu adzan (terdengar azan-red), ayo kita sholat jamaah,” tambah dia.
Gus Yani menjelaskan, hal seperti ini merupakan satah satu bentuk contoh sederhana perilaku keteladanan kepada anak yang harus dimulai dan dilakukan secara berkelajutan.

“Walaupun pak bupati juga sibuk, kulo dekek liyane (saya taruh semuanya-red). Karena apa? karena saya masih punya tanggung jawab besar, ketika saya sukses menjadi kepala daerah, tapi saya tidak sukses dalam membangun keluarga saya, ini yang harus saya hindari,” ungkap dia.
Untuk itu, pihaknya mengajak serta mendorong seluruh stakeholder khususnya di bidang pendidikan untuk senantiasa belajar serta memberikan teladan yang baik bagi lingkungan sekitar.
“Kita harus benar-benar merubah gaya pendidikan, gaya mengajar. Kita tidak boleh merasa cukup dalam hal mengajar, mendidik, atau menjadi seorang pemimpin di lingkungan pendidikan, itu yang harus kita garis bawahi,”tandas dia.
Sedangkan Wabup Gresik Aminatun Habibah (Bu Min) yang juga menjadi salah satu pembicara mengatakan, akar terjadinya tiga dosa besar pendidikan dipicu salah satunya adalah kebijakan zonasi dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB).
“Sistem zonasi membuat kehidupan sekolah menjadi lebih heterogen. Misalnya, sekolah favorit sekarang tidak hanya diisi mereka yang berprestasi saja. Mereka yang tinggal di dekat sekolah itu juga bisa menempuh pendidikan di sana. Menurutnya, ini sebagai bentuk keadilan,” tandasnya.
Sehingga, tenaga pendidik atau guru dituntut untuk terus meningkatkan kapasitas dirinya dalam mengelola kelas. Kehidupan sekolah yang tidak lagi homogen bisa berpotensi terjadinya tiga doa besar pendidikan jika tidak dikelola dengan baik dari semua pemangku kepentingan.
Seminar tersebut diapresiasi Menteri Pendidikan Nadiem Makariem melalui pesan daring. Menurutnya, tema tersebut sangat penting untuk terus dibahas, terus didiskusikan oleh semua pemangku kepentingan.
“Hampir setiap hari kita melihat berita pelajar menjadi korban perundungan, pelecehan seksual dan intoleransi,” ucapnya.
Kendati demikian, pihaknya terus menguatkan upaya dalam menghapus tiga doa besar pendidikan tersebut. Seperti penerbitan peraturan menteri tentang pencegahaan dan penanggulangan pelecehan seksual di perguruan tinggi. Ke depan pihaknya merancang regulasi di tingkat PAUD, SD hingga sekolah menengah.
Menteri juga mengajak awak media untuk bersama – sama menggalakkan kampanye pendidikan yang ramah. Mengabarkan apa yang sudah dilakukan pemerintah kepada masyarakat. Mari terus bergerak serentak mewujudkan lingkungan pendidikan yang merdeka dari kekerasan,” tutup Menteri Nadiem. Terakhir, Kepala Dinas Pendidikan Gresik S Hariyanto mengaku pembahasan tiga dosa besar pendidikan ini penting dalam rangka merealisasikan sekolah ramah anak. “Serta mewujudkan Gresik sebagai kabupaten layak anak. Tahun 2022 Gresik sudah meraih kategori Nindya atau medium, tahun ini targetnya Gresik kategori utama,”pungkas dia.(*)