GRESIK – Beritautama.co – Minyak goreng (migor) curah mengalami kelangkaaan dalam beberapa hari terakhir di Gresik setelah kebijakan pemerintah penghapusan harga eceran tertinggi (HET) untuk migor kemasan. Sebab, masyarakat beralih ke migor curah. Pedagang eceran antri dan langsung menyerbu ketika suplai migor curah datang ke agen.
Puluhan pedagang eceran terlihat mengantre migor curah di dua titik depan Pasar Baru Gresik. Satu titik berada di toko Koperasi Pasar, satunya lagi di sebuah toko milik CV Sahabat. Pemandangan ini terjadi sejak Senin (21/03/2022) hingga Rabu (23/02/2022).
Salah seorang pembeli yang mengaku bernama Iva mengatakan, pengecer biasanya bisa membeli hingga 10 jerigen ukuran 16 kilogram. Saat ini, mereka dibatasi pembeliannya yakni satu orang hanya dapat membeli satu jerigen. Sebab, agen juga mengalami penurunan suplai yang hanya mendapat satu tanki migor curah.
“Sudah antri lama, tetapi hanya dapat satu jerigen,” katanya.
Hal senada dikatakan Hanik, pengecer migor lain yang kulakan di Koperasi Pasar. Dia menjual lagi minyak gorengnya di kisaran Rp17-18 ribu perkilogramnya. Sebab, stok yang didapat hanya sedikit.
“Kalau dulu normal bisa dapat minimal 5 jerigen besar isi 16 kilo,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Gresik Agus Budiono kepada awak media mengaku, hasil monitoring di lapangan ternyata banyak masyarakat yang beralih ke migor curah. Sebab, harga migor kemasan yang melonjak berkisar Rp 23-25 ribu per liter.
Agus menegaskan harga migor curah dinpasaran saat ini berkisar Rp 14-15 ribu. Apabila harga jual di tingkat pengecer yang cenderung mahal itu bukan tanggung jawab pihaknya.
“Itu (harga di tingkat pengecer-red) bukan tanggung jawab kami. Di pengecer terserah mau dijual berapa ?. Asalkan jangan terlalu mahal. Kalau terlalu mahal akan kami evaluasi,” katanya.
Agus Budiono memastikan harga di tingkat agen seperti Koperasi Pasar dan CV Sahabat sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp14.000 per liter atau Rp15.500 per kilogram. “Karena agen itu level ketiga rantai distribusi, setelah produsen, distributor baru agen, kita mengawasi disitu. Kalau di pengecer di pasar, perumahan, kampung-kampung Rp16.000 sampai Rp17.000 ya masih wajar, mereka juga ambil untung,” pungkas dia.<>