GRESIK, Berita Utama – Manisnya hasil budidaya semangka inul kuning maduri tengah dirasakan petani di Dusun Tenggor, Desa Tenggor, Kecamatan Balongpanggang. Sebab, mereka tengah panen yang bisa meraup hingga Rp 60 juta setelah tanam dan merawat selama kurang lebih 60 hari.
Biaya yang dikeluarkan juga tidak banyak dibandingkan hasil yang diperoleh. Untuk satu bungkus bibit semangka inul kuning maduri berisi sekitar 450 biji, dibeli dengan harga kisaran Rp 110 ribu.
“Memang, biaya yang dikeluarkan tidak sebegitu besar mulai dari tanam hingga panen,” ujar Sadi (59), salah satu petani saat ditemui beritautama.co di ladang sawah miliknya, Senin (24/07/2023).
Dalam proses perawatan, sambung dia, petani memerlukan tenaga yang lebih untuk memantau kondisi perkembangan dan pertumbuhan buah secara intens di sawah.
“Biar mengetahui, kapan waktunya diberi pupuk. Termasuk memantau pergerakan tikus. Alhamdulillah, tahun ini tikusnya gak seberapa,” imbuh dia.

Sadi menambahkan, hasil panen biasanya dikirim ke luar kota mulai dari Kediri, Jombang, Bojonegoro hingga luar provinsi seperti Jakarta, Demak, Semarang, dan sebagainya. Biasanya para tengkulak yang membeli hasil panen, tidak diukur dari berapa luas lahan sawah, atau hitungan per kilo. Tetapi, perhitungan harga dari berapa banyak bibit yang ditanam.
“Per satu bungkus harga bisa Rp 3 juta, itu normal. Kalau gak normal rata-rata Rp 2,5 juta. Hitungannya tengkulak atau bakul itu dari jumlah bibit,” jelas dia.
Petani buah Desa Tenggor memanfaatkan lahan untuk ditanami buah ketika memasuki musim panen ketiga atau musim kemarau. Sedangkan ketika musim panen pertama dan kedua biasanya ditanami dengan padi.
“Kalau tanam buah-buahan itu campuran, mulai ada yang tanam Timun Mas, Melon Apollo, Blewah Sunrise, dan Melon Golden,” pungkas dia.
Komentar telah ditutup.