GRESIK, Berita Utama – Perjuangan hidup yang dijalani atlet Indonesia Beladiri Campuran Amatir (IBCA) Mixed Martial Art (MMA) Kickboxing Gresik, Dodik Prasetiyo Abdul Haq (17 ) yang tinggal di Dusun Doro, Desa Lampah, Kecamatan Kedamean, patut dijadikan inspirasi dan teladan bagi generasi muda.
Kendati memiliki latar belakang broken home dan ekonomi yang terbatas, tetapi semangatnya untuk berprestasi dan menemph pendidikan tak pernah kendur. Sejak orang tuanya berpisah, Dodik yang merupakan putra terakhir dari empat bersaudara membantu ayahnya membanting tulang untuk memenuhi kehidupan sehari-harinya. Karena saudaranya nomor satu sudah tidak pernah berkomunikasi dengannya. Sedangkan, saudara nomor dua dan tiga, sudah hidup berkeluarga.
Ayahnya hanya bekerja secara serabutan. Mulai dari buruh tani yang mengandalkan pemasukkan ketika tiba masa panen, menggunakan sistem bagi hasil dengan pemilik lahan. Selain itu, juga menjadi tukang pijat, dan merawat kambing milik tetangga.
Kondisi tersebut begitu, menguatkan tekad dan bercita-cita bisa membahagiakan ayah serta merubah nasib hidupnya melalui prestasi di bidang yang kini sedang ditekuni.
Dodik mengakui kerap terpaksa tidak masuk sekolah untuk bekerja demi membiayai keluarga. Mulai dari membantu ayahnya sebagai petani, merawat kambing milik tetangga, hingga bekerja pengantar depo isi ulang air minum.
“Terpaksa bolos karena bantu ayah mrontok padi di sawah. Kalau tidak begitu, ya kerja ketika orderan isi ulang air minum sedang ramai. Kalau ngarit (nyari rumput-red) gantian sama ayah,” ujar pemuda yang kini sedang duduk di bangku kelas 12 SMK Sunan Giri Menganti kepada beritautama.co, Rabu (09/08/2023).
Semua dilakukan untuk biaya sekolah, kebutuhan sehari-hari, dan juga bantu buat biaya merawat nenek yang sakit.
“Dulu dirawat di rumah, baru seminggu ini di rumah sakit. Sakitnya itu, tubuhnya itu udah mati rasa separuh. Terus jaganya di rumah sakit gantian sama tante,” imbuhnya.

Dodik selalu memikirkan cara bisa memiliki uang untuk membeli BBM ketika akan berangkat latihan rutin di Gedung Wahana Ekspresi Poesponegoro (WEP) Gresik.
“Uang untuk beli BBM ke WEP tak ada. Jadi, sebelum latihan ngumpulin uang dulu buat beli BBM,” papar dia.
Sebagai tukang antar di depo isi ulang air minum, Dodik biasanya mendapatkan upah Rp 130 ribu dengan waktu kerja dari pukul 06.00 – 18.00 WIB. Sedangkan, pada malam hingga pukul 03.00 WIB dini hari mendapatkan upah sekitar Rp 80 ribu.
Sedangkan penghasilan dari membantu mrontok di sawah itu, hasil panen dibagi dua dengan pemilik lahan.
“Kalau yang rawat kambing, ketika anak kambing lahir, entar dijual dan dibagi dua,biasanya dapat Rp 500 ribu,” tandas dia.
Dodik saat ditemui beritautama.co menceritakan mulai menekuni bidang olahraga fight sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD). Dia berkeinginan untuk fokus menjadi atlet berprestasi, dan nantinya ketika lulus dari SMK berharap bisa menjadi bagian dari TNI.
“Belum kepikiran mau ambil kuliah di mana atau jurusan apa. Pengennya sementara ini ya bisa jadi tentara,” pungkasnya.
Komentar telah ditutup.