GRESIK, Berita Utama – Kasus kekerasan yang masih kerap terjadi di lembaga pendidikan. Seperti kasus Kepala MTs Nurul Islam berinisial AN yang dipecat setelah melakukan kekerasan pada 15 siswanya dan empat siswi dilaporkan pingsan setelah mendapatkan pukulan dan hukuman. Kasusnya kini berlanjut ke ranah hukum dan sedang ditangani Polres Gresik.
Realitas tersebut menjadi catatan penting dimana membutuhkan monitoring lebih dari penyelenggara pendidikan, baik kegamaan, non keagamaan, negeri dan atau swasta, termasuk masyarakat yang merupakan stakeholder juga berhak memantau dan memberikan masukan yang positif untuk kebaikan penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan di lingkungan masing-masing dengan bijak dan keteladanan.
Sebagai guru yang bijaksana, akan terus melakukan pembinaan baik dari segi hard skill maupun soft skill, serta mencari metode alternatif yang lebih efektif dalam mempersiapkan anak didik secara mental dan moral, saintikal, spiritual, dan etos sosial. Sehingga anak dapat mencapai kematangan yang sempurna, memiliki wawasan yang luas dan kepribadian yang tauhidi.
Menurut Dewan Pakar Pendidikan Gresik Dr. A. Syifaul Qulub, kepribadian yang tauhidi (meng Esa-kan Allah semata) harus senantiasa melekat pada sebuah lembaga pendidikan. Sebab itulah yang menjadi penentu terbentuknya perilaku kepribadian yang berakhlakul karimah, baik bagi guru, tenaga pendidik, maupun siswa-siswi.
“Bersyukur di Gresik oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik lagi giat-giatnya memasifkan khotmil qur’an di setiap sekolah baik negeri maupun swasta dengan harapan nuansa qur’ani secara perlahan terbentuk perilaku qur’ani sebagai mana harapan masyarakat Gresik dan harapan Bupati Gresik mewujudkan Gresik yang berakhlakul karimah,” kata Cak Aduk, demikian sapaan pria yang juga menjabat ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Daruttaqwa (STAIDA) Gresik.
Cak Afuk yang juga Wakil Ketua PCNU Gresik berharap para guru dapat mendampingi dan mendidik siswa-siswi di lembaga pendidikan masing-masing dengan keikhlasan dan keteguhan hati. Sehingga mudah mengontrol diri dan menciptakan suasana kegiatan belajar mengajar (KBM) yang lebih teduh.
“Berharap pada instansi terkait dan segenap organisasi profesi lebih meningkatkan pendalaman materi shof skil guru dan supervisi kinerja guru lebih mengedepankan aspek spiritualitas guru,” jelasnya.

Sementara Ketua Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Gresik Samsul Anam menuturkan bahwa komunikasi dua sisi antara pendidik atau guru dan terdidik atau murid dalam dunia pendidikan harus terjalin secara mutualisme. Sebab tujuan utama penyelenggaraan pembelajaran yang berkualitas adalah pembelajaran yang beretika.
“Seorang pendidik harus menguasai berbagai strategi dan metode pembelajaran dan seorang murid memahami posisi sebagai pembelajar,” ujarnya.
Sebagai guru yang berbasis Aswaja Annahdliyah, Samsul menjelaskan bahwa guru harus mampu memahami strategi pembelajaran ala muasis NU yang berciri tawasuth atau moderat tassamuh atau toleran, tawasuth atau berimbang dan i’tidal atau berprinsip yang dikombinasikan dengan metode atau strategi kekinian serta bersifat Student Center.
“Maka untuk menjawab itu semua PC Pergunu Gresik terus menerus mengadakan berbagai kegiatan baik Workshop, diklat, sarasehan, loka dan lainnya untuk membekali guru khususnya guru NU agar mampu menguasai berbagai ilmu keguruan karena pelajar itu pemilik masa lalu sedang pembelajar afalah pemilik masa depan,” pungkasnya.
Komentar telah ditutup.