GRESIK-beritautama.co- Banjir rob akibat gelombang air laut pasang melanda empat kecamatan di Gresik.Seperti Kecamatan Gresik, Ujungpangkah, Manyar, dan Bungah yang menyebabkan pemukiman maupun tambak terendam serta abrasi. Bahkan, banjir rob diperkirakan masih akan berlangsung selama beberapa hari ke depan.
Di Mengare yang meliputi Desa Tajung Widoro, Watuagung dan Kramat Kecamatan Bungah, puluhan hektar tambak tenggelam akibat banjir rob. Bahkan, areal tambak tampak seperti lautan. Kerugian ditaksir mencapai ratusan juta, Kamis (19/05/2022).
Tingginya air pasang membuat pematang di beberapa lahan tambak jebol. Alhasil, berdampak pada puluhan tambak yang lain hingga mengakibatkan tenggelam. Para petani tambak kelimpungan. Sebab, banyak ikan yang seharusnya siap dipanen terpaksa harus lepas ke laut.
Berbagai cara dilakukan para petani tambak untuk menyelamatkan lahan maupun ikan mereka. Misalnya dengan menaikan bendungan tambak dan memasang jaring pembatas. “Supaya ikan tidak keluar ke laut maupun lahan tambak warga lainnya,” ujar Rosyid, warga setempat.
Bahkan, tanggul yang berdampingan dengan laut juga rata tak terlihat terkena abrasi. Hanya beberapa gubuk kecil dan tanaman yang menjulang tinggi.
“Parah. Merata seluruh wilayah Mengare. Kerugiannya bisa ratusan juta,” imbuhnya.
Sedangkan banjir rob yang menggenangi Kecamatan Gresik di Jalan KK Kholil dan Kelurahan Lumpur. Kemudian, Desa Banyuwangi Kecamatan Manyar serta Desa Pangkahwetan Kecamatan Ujungpangkah.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gresik Tarso Sagito mengatakan, untuk banjir rob di Desa Banyuwangi mengakibatkan 107 rumah tergenang dengan ketinggian mencapai 30 centimeter. Selain itu, sejumlah fasilitas umum seperti tempat ibadah hingga dua sekolah juga tergenang.
“Ini berlangsung dalam beberapa hari, tapi ketika siang, air akan surut dan kembali pasang mulai malam hari,” ujar Tarso.
Sementara itu, Ketua F-PKB DPRD Gresik Syahrul Munir mengatakan banjir rob yang menyebabkan abrasi.
“Abrasi sering terjadi di Mengare. Kalau sudah abrasi dan secara permukaan tambak menjadi hilang. Sesuai Undang-Undang tentang pertanahan maka hak seseorang atas tanahnya bisa hilang, alias kembali ke Negara, “ujarnya prihatin.
Politisi yang mewakili Kecamayan Manyar, Bungah dan Sidayu ini menganalisa banjir rob semakin parah di wilayah Mengare akibat reklamasi di sekitar situ.
“Bisa jadi semakin parah akibat reklamasi besar-besaran untuk industri di sekitar pantai.Kalau tambak sudah jebol susah diperbaiki,” imbuh dia.
Menurut Syahrul Munir, sampai saat ini masih belum ada langkah konkret Pemerintah dalam menyelamatkan lahan petambak di wilayah Mengare.
“Karena kalau laut domainnya sudah masuk provinsi. Saat ini sedang kita koordinasikan dengan Dinas Perikanan,” tegasnya.