oleh
M SYAHRUL MUNIR
TENGAH malam, terlintas ingatan ke Almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), mantan Presiden RI ke-4 yang dulu pernah bersiap maju pada Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2004 dengan berpasangan Calon Wakil Presiden (Cawapres) Marwah Daud. Meskipun akhirnya gagal menjadi kontestan karena tidak memenuhi ketentuan yang dipersyaratkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) yaitu sehat secara jasmani.
Bagi penulis yang tahun itu masih bocah karena duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah (MTs), sudah punya anggapan alias pikiran kalau ada- istilahnya sekarang-“politisasi” dari KPU karena pada akhirnya Gus Dur gagal berangkat nyapres.
Perkara Gus Dur nyapres saat itu, sudah sangat bisa ditebak bahwa Gus Dur pasti gagal. Benak penulis yang masih bocah saat itu, sudah mengetahui kalau Gus Dur tidak akan lolos uji kesehatan jasmani. Tapi, penulis juga bertanya-tanya alasan Gus Dur tetap berusaha maju Pilpres. Padahal peluangnya sangatlah kecil.
Fyi (for your information), penulis dulu sering mengikuti berita politik karena Almarhum abah penulis memang aktif di politik meskipun sampai sekarang penulis tidak mengetahui jabatannya di partai politik.
Rasa penasaran penulis yang masih bocah saat itu, akhirnya perlahan terjawab bahwa Gus Dur tetap bersikeras maju dalam Pilpres karena didorong oleh beberapa kyai khos untuk tetap maju. Menang kalah tetap maju.
Dari perjalanan Gus Dur gagal nyapres pada tahun 2004, satu hal yang membuat penulis bertanya-tanya saat itu yakni hasil survei elektabilitas Gus Dur yang seingat penulis tidak menyentuh 5%. Rendah banget pokoknya. Sekali lagi, penulis masih bocah saat itu, binggung dan penasaran. Kok bisa ya, mantan Presiden dan didukung penuh orang-orang NU tapi elektabilitasnya dibawah 5%? Apa memang orang NU tidak disurvei?
Dan saat itu,seingat penulis juga banyak yang mencibir Gus Dur karena tetap maju terus untuk Pilpres sampai pada akhirnya gagal. Bu Marwah Daud juga menurut penulis pada saat itu juga sosoknya tidak terkenal amat. Kok Gus Dur rencana gandeng beliau ya? Ini juga kadang jadi misteri. Hitung-hitungan matematika politik, baik itu elektabilitas dan popularitas pasti akan tumbang. Dan tumbang juga pada akhirnya karena tidak diloloskan KPU.
Kegagalan Gus Dur sebagai capres, akhirnya muncul kandidat cawapres-cawapres dari unsur NU. Ada KH. Hasyim Muzadi-saat itu Ketua PBNU -dengan nama pasangan (Mega-Hasyim). Juga muncul adik Gus Dur yaitu KH.Sholahuddin Wahid.
Di rumah penulis, dulu ada kaos WW (Wiranto-Wahid). Maklum, abah penulis memang aktivis Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Sehingga, kaos WW ada di rumah karena saat itu koalisinya adalah Golkar-PKB. Singkat cerita calon-calon dari unsur NU pada akhirnya tumbang semua dikalahkan oleh pasangan SBY-JK.
Saat ini, ada “unen-unen” bahwa Nahdaltul Ulama (NU) tidak ke mana-mana tapi ada di mana-mana. Berangkat dari fenomena survei elektabilitas Gus Dur yang sangat rendah saat itu, kemudian dengan gagalnya KH Hasyim Muzadi dan KH Sholahuddin Wahid di tahun 2004, akhirnya penulis kembali bertanya saat sudah tidak bocah lagi di momen Pilpres 2024 ini. “NU ketika ada kontestasi Pemilu itu, sebenarnya ada dimana, ya?”.
Ketua Umum PKB, Gus Muhaimin Iskandar yang sedang viral paska deklrasi sebagai Cawapres berpasangan dengan Capres Anies Rasyid Baswedan, menurut penulis, fenomena yang terjadi mirip dengan Gus Dur di tahun 2004 silam. Pada akhirnya, menyulut beberapa capres yang muncul baik Prabowo Subianto maupun Ganjar Pranowo untuk bermanuver mencari kandidat yang pasti ada unsur NU-nya. Pasti itu.
Baru saja, Prabowo Subianto sudah ketemuan Yenny Wahid yang dianggap ada unsur NU- nya. Sebentar lagi, Ganjar Pranowo juga pasti ketemuan dengan tokoh yang ada NU- nya. Penulis khawatir sejarah kembali berulang. Calon-calon NU alias kader-kader NU berakhir tumbang.
Maka, pertanyaan penulis sekarang, “NU hari ini mau ke mana?. Apakah memilih untuk tetap gak ke mana-mana agar bisa di mana-mana? Kalau tak kemana-mana dan dianggap netral, kok masih saja jadi rebutan untuk dibawa ke mana-mana?.” Kamu nanyak?
Penulis adalah Ketua FPKB DPRD Gresik, Bendahara PC GP Ansor Gresik dan Ketua DKC Garda Bangsa Gresik
Komentar telah ditutup.