GRESIK-beritautama.co- Dewan Energi Mahasiswa (DEM) Gresik mengajak semua elemen masyarakat untuk bersama ikut serta dan mengawal kebijakan energi di negeri ini,
“Supaya kedepan nanti tidak ada lagi masyarakat yang terdampak dalam penerapan kebijakan yang kurang pro terhadap rakyat kecil”, jelas Ketua DEM Gresik, Muhammad Azizul Ghofar dalam siaran persnya, Sabtu (08/04/2022).
Tepat 1 April 2022 kemarin, berdasarkan Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM No. 62 K/12/MEM/2020 menaikkan harga BBM jenis Pertamax (non subsidi) dari semula Rp 9.000 menjadi Rp 12.500 per liter (38%) untuk wilayah Jawa, Sumatera, serta Bali dan Nusa Tenggara. Sedangkan untuk wilayah Kalimantan dan Indonesia Timur harga pertamax naik menjadi Rp 12.750 per liter.
Kenaikan 38% ini, lanjut dia, bisa mengakibatkan terjadi pergeseran konsumsi dari Pertamax ke pembelian Pertalite (BBM penugasan subsidi), hal ini bisa terjadi karena daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih setelah lebih 2 tahun mengalami pandemi covid-19 dan perekonomian masyarakat menjadi terbatas,
“Sejalan itu kenaikan harga BBM jenis pertamax juga harus melihat dari pada aspek kondisi hulu migas nasional”, jelasnya
Kondisi migas nasional saat ini, sambung dia, capaian produksi siap jual atau lifting minyak bumi di tahun 2021 kembali turun dengan capaian tahun-tahun sebelumnya, dalam pemenuhan konsumsi BBM Nasional, negara melakukan import minyak yang berdasarkan data BPS mencatat nilai import hasil minyak atau BBM sepanjang 2021 melonjak 74% menjadi US$ 14.39 Miliar atau sekitar Rp 205.7 Triliun (asumsi kurs Rp 14.300 per US$), sedangkan US$ 8.28 Miliar disepanjang 2020. Lonjakkan BBM 2021 ini tidak terlepas dari kenaikan harga minyak mentah dunia.
Pertamina sebagai satu-satunya BUMN, kata dia, dapat menangani permasalahn tersebut, ketika mempu berjalan sesuai tugas dan peranan yang dimilikinya, jikalau tak demikian maka kenaikan BBM Pertamax ini bakal disusul kenaikan jenis bahan bakar lainnya seperti pertalite dan tabung elpiji 3 Kilogram. Imbas kenaikan harga BBM ini harga kebutuhan pokok pada bulan puasa tahun ini juga disinyalir bakal ikutan meroket.
“Ini akan membebani masyarakat, apalagi nantinya Pertalite dan gas LPG juga akan naik, pasti masyarakat semakin menderita. Sekarang masih nggak apa – apa, tapi nanti menjelang idul fitri pasti terasa. Ini minyak goreng naik, gula mahal, masyarakat kecewa. Jadi beban bukan lagi di pundak Jokowi, tapi masyarakat sendiri,” pungkas dia.