GRESIK, Berita Utama– Festival Pasar Djadoel Grisse yang digelar di salah satu mall di Gresik membawa berkah bagi pedagang. Sebab, omset mereka yang menjual jajanan lawas alias jadul meningkat tajam selama tiga hari gelaran yang diselenggarakan oleh Omah Dhuafa.
Ada beberapa kuliner yang disajikan dalam festival itu, antara lain Es Gudir, Ndok-Ndokan Iwak (Olahan telur ikan), Es Dawet, Pecel Pincuk Pecel Semanggi, Sinom, Legen, Serabi Dahlia, Kupat Kethek, Nasi Krawu, Sego Menir, Arbanat, Masin, Martabak, Sego Karak Tempe dan beberapa kuliner tradisional khas Gresik.
“Omset penjual es cendol dawet yang biasanya sebesar Rp 200 ribu perhari, naik tajam menjadi sebesar Rp 1,2 juta perhari selama festival berlangsung,”ujar Pimpin Omah Dhuafa, Syaichu Busyiri dengan nada bangga, Senin (05/08/2024).
Anggota DPRD Gresik dari Fraksi PKB tersebut berterima kasih kepada Calon Bupati (Cabup) M Syahrul Munir yang menyempatkan hadir dalam penutupan pada Minggu malam (04/08/2024). Sebab, ada kepeduliannya terhadap pengembangan ekonomi UMKM. Khususnya yang memproduksi makanan tradisional.
“Hasil dari festival ini sebagian akan digunakan untuk membantu masyarakat yang perlu bantuan, terima kasih kepada semua pihak yang membantu. Juga Mas Syahrul Munir yang hadir,” imbuhnya.
Sementara itu, Cabup M Syahrul Munir menyebut, festival tersebut perlu digelar lebih sering untuk memasyarakatkan panganan tradisional khas Gresik. Pasalnya, generasi muda saat ini, terutama Gen Z dan milenial cenderung kurang kenal jadul ini.
“Luar biasa. Saya dengar yang jualan di sini bisa mendapat pemasukan hingga Rp2 juta sehari,” katanya.
Saat kecil, Syahrul Munir mengaku akrab dengan jajanan tradisional, seperti getuk, serawut, kelanting dan sebagainya. Namun jajanan tradisional tersebut semakin jarang ditemui. Sehingga anak-anak muda sekarang kurang mengenal jajanan tradisional tersebut.
“Padahal rasanya juga enak, pun olahan masakan tradisional sehat karena cenderung memakai bahan alami dan diolah langsung. Berbeda dengan ultra processed food kekinian yang cenderung kurang sehat bila dikonsumsi setiap hari,” tutur dia.
Kuliner tradisional, menurut Syahrul tumbuh dalam kebudayaan dan tradisi masyarakat, selain penting untuk dilestarikan, makanan tradisional juga memiliki potensi ekonomi yang bisa dikembangkan untuk mengungkit ekonomi masyarakat.
“Ke depan saya mendorong festival seperti ini lebih sering digelar, dan kuliner tradisional Gresik bisa diserap perkantoran, industri swasta ataupun kantor pemerintahan untuk kebutuhan katering,” pungkas dia.
Komentar telah ditutup.