GRESIK – Beritautama.co – Kabupaten Gresik terkenal dengan sebutan kota wali masih melekat di telinga masyarakat luas. Identik dengan tersebarnya pondok pesantren sehingga memberi branding sebagai Kota Santri di mana masyarakatnya religius dengan busana khasnya.
Sarung menjadi kebutuhan bagi sebagian orang baik sebagai pakaian ibadah maupun keseharian. Dan usaha mikro kecil menengah sarung dari Gresik, sangat terkenal. Utamanya, produk UMKM dari kecamatan Cerme dengan nilai jual cukup tinggi yaitu Sarung Tenun Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Kluster Sarung Tenun Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang merupakan kluster produk terbanyak.
Handoko, salah satu pekaku usaha sarung tenun asal Desa Gedang Kulut, Kecamatan Cerme, mengaku telah memulai usahanya sekitar 10 tahun lalu. Bersama istrinya merintis usaha sarung tenun. Bekal pengalaman pernah bekerja sebagai pegawai salah satu pabrik sarung cukup terkenal di Gresik, menjadi modal dasar serta keinginan kuat bagi Handoko dan istrinya untuk merintis usaha sarung tenun sendiri.
“Sebelumnya hanya di distribusikan ke wilayah Gresik, Surabaya, dan sekitarnya. Juga luar Jawa,” ujar Handoko yang ditemui beritautama.co, Rabu (09/03/2022).

Berkat ketekunan dan keuletannya, kini usahanya Handoko semakin pesat dengan dibantu 130 orang karyawannya yang berasal dari Gresik dan Lamongan. Sejak dua tahun silam, Handoko sudah punya target pasar di luar negeri. Akhirnya, produknya sarung tenunnya sudah menembus mancanegara yang tersebar di negara Pakistan, Afrika, Yaman, dan China.
“Belum bisa ekspor sendiri. Saat ini, ekspor melalui PT Alfamas. Perusahaan ini sebagai penampung barang-barang yang akan diekspor keluar negeri. Lokasinya perusahaan di Kota Medan,” jelas dia.
Omzet yang didapat mencapai sekitar Rp1,5 miliar per triwulannya. Sarung tenun produksi Handoko dibanderol mulai harga Rp500 ribu hingga Rp2 juta di pasaran. Setiap bulannya, dia mampu memproduksi minimal 350 potong sarung tenun.
“Permintaan pasar meningkat tajam di momentum Hari Raya Idul Fitri dan Maulud Nabi SAW,” papar dia.
Sayangnya, ketika ada permintaan pasar sedang meningkat di musim tertentu, Handoko mengaku mengalami kendala. Padahal, momentum tersebut menjadi peluang untuk semakin memperbesar usahanya.
“Yang menjadi kendala bagi pengusaha tenun seperti kita ini yaitu dalam menghadapi musim (permintaan meningkat-red),” ujarnya.
“Meskipun kita mengurus hak paten kita, tapi jika modal itu masih sama dan belum bisa memenuhi kebutuhan pasar. Ya sama saja,” imbuhnya dengan ekspresi kecut.
Pasalnya, sambung Handoko, penyuluhan yang dilakukan pemerintah agar pelaku UMKM bisa mandiri dan melakukan ekspor sendiri belum menjawab tantangan bagi pengusaha tenun. Pelaku usaha tenun membutuhkan solusi permodalan ketika mereka menghadapi musim permintaan pasar yang meningkat.
“Solusi permodalan untuk menambah kapasitas produksi agar kita bisa memenuhi permintaan pasar yang meningkat, itu lebih kita butuhkan,” pungkas dia.