GRESIK, Berita Utama– Krisis fiskal daerah memaksa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik harus mengepras berbagai anggaran dalam rancangan perubahan APBD (P-APBD) Gresik tahun 2023 agar neraca keuangan berimbang. Sebab, pendapatan daerah yang awalnya diproyeksikan mencapai Rp 3,8 triliun, setelah dilakukan kajian mengalami penurunan target menjadi Rp 3,6 triliun. Padahal, belanja daerah sebesar Rp 4,01 triliun. Sehingga defisit belanja daerah mencapai Rp 335,7 miliar.
Untuk menutup defisit yakni melalui efesiensi. Salah satu rencana anggaran yang rencanaya dikepras oleh Tim Anggaran (Timang) Pemkab Gresik yakni pos anggaran di Sekretariat DPRD (Sekwan) Gresik. Tak pelak, terjadi perdebatan sengit antara Badan Anggaran (Banggar) dan Timang dalam rapat.
Sebab, rencana tersebut bakal melumpuhkan kinerja DPRD Gresik dalam fungsi legislasi dan budgeting di tahun 2023.
‘Ada rencana Timang Pemkab Gresik mengepras anggaran sebesar Rp 18 miliar di pos Sekwan. Anggaran itu, rencana penggunaannya untuk pembahasan program pembentukan peraturan daerah (Propemperda) tahap II tahun 2023 hingga pembahasan ranperda tentang APBD Gresik tahun 2024 nanti,”ujar Ketua DPRD Gresik ex officio Ketua Banggar DPRD Gresik, Much Abdul Qodir dengan nada serius kepada awak media, Senin (21/08/2023).
Rencana Timang Pekab Gresik tersebut bakal melumpuhkan fungsi dari DPRD Gresik. Ditambah lagi, beberapa ranperda yang diusulkan untuk dibahas dalam propemperda tahap II tahun 2023, merupakan ranperda usul prakarsa dari eksekutif.
“Kalau memang dihilangkan, silahkan saja. Kita tidak menjalankan fungsi legislasi. Kan itu (ranperda-red) yang bakal dibahas dalam propemperda tahap II tahn 2023, semua usulan eksekutif dan menjadi kepentingan eksekutif. Termasuk, kita tidak membahas ranperda tentang APBD Gresik tahan 2024. Jadi, biar semuanya berhenti,”tandas dia.
Akhirnya, Timang Pemkab Gresik ‘ngeper’ dan mengurungkan rencana pengeprasan anggaran untuk DPRD Gresik yang berada di pos Sekwan Gresik. Sebaliknya, Abdul Qodir memberikan solusi agar anggaran barang dan jasa di berbagai OPD di lingkungan Pemkab Gresik yang harus dilakukan efesiensi.
“Seperti tahun kemarin, anggaran infrastruktur dipatok sebesar Rp 700 miliar. Tahun 2023, dianggarkan sebesar Rp 900 miliar. Ini yang kita minta diefesiensi agar disamakan dengan APBD Gresik tahun 2022 lalu,”tandas dia.
Kalau masih ada kekurangan untuk menutup defisit, sambung politisi PKB itu, maka pos anggaran belanja barang dan jasa di berbagai OPD yang harus dilakukan pengeprasan atau efesiensi. Sebab, ada isu yang meresahkan kalau usulan melalui pokok-pokok pikiran (pokir) DPRD Gresik yang merupakan hasil tindak lanjut dari reses, bakal dikurangi oleh Pemkab Gresik sebesar 10 %.
Alhasil, anggota DPRD Gresik menjadi konflik di internal seolah pimpinan dewan sepihak membuat kebijakan pemotongan pokir tersebut.
“Jadi, tidak ada pemotongan anggaran untuk pokir dari teman-teman,”pungkas dia.