GRESIK, Berita Utama- Berbagai keluhan masyarakat disampaikan ke Calon Bupati (Cabup) M Syahrul Munir yang blusukan menyapa masyarakat dan belanja masalah di Pulau Mengare yang terletak di Kecamatan Manyar. Wilayah dengan tiga desa yakni Desa Kramat, Tanjung Widoro, dan Watu Agung tersebut dikenal dengan potensi bahari dan perikanan yang luar biasa.
Dari hasil blusukan, Cabup M Syahrul Munir mengaku, pemuda di Pulau Mengare cenderung menyukai pekerjaan di luar, terutama di pabrik-pabrik sekitar Manyar. Namun tidak bisa dijadikan mata pencaharian tetap. Pasalnya mereka terikat kerja kontrak yang sewaktu-waktu bisa diberhentikan. Sehingga, banyakpengangguran di Mengare yang menjadi ring satu Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Java Integreated Industrial Port and Estate (JIIPE).
“Saya mendapatkan banyak masukan dari warga, dan tokoh setempat agar perekonomian di Mengare bisa dibangun dengan membina warga untuk menghasilkan produk berbasis hasil perikanan di sini, sekaligus agar pemuda di sini bisa berusaha tanpa harus bekerja di luar,” terang Cabup M Syahrul Munir dengan nada serius, Senin (12/08/2024).
Dicontohkan, daging kepiting yang dihasilkan masyarakat Mengare seharusnya bisa diproduksi sendiri menjadi produk yang bernilai tambah, tidak hanya dipasok ke industri di dalam atau luar Gresik.
“Misalkan diekspor, harus warga Mengare sendiri yang mengekspor, bukan pihak lain. Dari sini kami akan lakukan pembinaan, pendampingan proses produknya agar bisa memenuhi standar dan pendampingan perizinannya,” jelas dia.
Sebab, dia sempat mengunjungi industri rumahan di Mengare yang menghasilkan daging kepiting kupas.
“Memang sudah ada pasarnya, namun saya melihat masih potensial dikembangkan untuk diserap industri Food and Beverage,”terang Syahrul.
Aspek lingkungan Pulau Mengare, sambung dia, juga harus menjadi prioritas. Pasalnya daerah pesisir seperti di Mengare terancam perubahan iklim akibat pemanasan global. Salah satu ancaman kongkritnya adalah naiknya permukaan air laut.
“Ini bisa mengancam keberlangsungan tambak ikan di Mengare yang selama ini dikenal menghasilkan bandeng-bandeng berkualitas,” kata dia.
Tantangan yang dihadapi Nelayan Mengare, saat musim angin barat yang menyebabkan nelayan tak bisa melaut dan tak ada hasil tangkapan. Solusinya, Cabup M Syahrul Munir akan menyiapkan bantuan sosial khusus nelayan selama tidak bekerja (melaut).
“Ada juga tantangan penggunaan jaring trawl yang dikeluhkan nelayan Mengare, ini merusak lingkungan dan berpotensi mengurangi hasil tangkapan ikan. Tentu harus ditindak oleh aparat penegak hukum. Sebagai Bupati nanti saya akan pastikan berkoordinasi dengan aparat yang berwenang untuk mencegah penggunaan troll ini,” tegas dia.
Sementara, untuk menjamin akses kerja warga Mengare yang menjadi ring satu perusahaan di JIIPE, melalui program Gresik Mentas pengangguran, warga yang masih menganggur akan dilatih kompetensi kerja sekaligus akan disalurkan ke perusahaan-perusahaan di Kabupaten Gresik.
“Secara terpusat akan kami bentuk pusat pembinaan karir, di dalamnya ada program pelatihan kerja, magang dan penyaluran ke Industri di Gresik,” jelas Syahrul.
Selain itu, Syahrul juga mendapat masukan dari tokoh masyarakat tentang pendidikan, terutama pendidikan agama. Ustadz Sunari, salah satu tokoh masyarakat Desa Kramat berpesan agar Syahrul memperhatikan pendidikan agama, terutama kesejahteraan guru TPQ.
“Insya Allah guru-guru TPQ akan diupayakan penambahan insentif,” imbuh dia.
Dia juga mendapat aspirasi agar jalan masuk Mengare diperlebar untuk memudahkan akses masyarakat. “Jalan menuju Mengare ini jadi perhatian khusus kami, karena dari dulu lebar jalan cuma segitu, makanya perlu diperlebar,” pungkas dia.
Komentar telah ditutup.