SUMENEP – Beritautama.co – Masyarakat petani di Pulau Sapudi Kabupaten Sumenep, Jawa Timur dinilai masih kental dalam menjaga tradisi gotong royong menyabit padi di sawah. Seperti halnya yang dilakukan oleh masyarakat Dusun Sabung-bung, Desa Pancor, Kecamatan Gayam, Pulau Sapudi.
Hingga detik ini, kebiasaan nenek moyang dengan gotong royong tersebut masih kental dilakukan oleh masyarakat petani. Selain untuk menjalin keharmonisan antarkeluarga petani juga untuk menjaga hubungan baik di lingkungan mereka bertani.
Meskipun di era modernisasi sudah banyak alat elektronik yang diperdagangkan untuk para petani agar lebih efisien dalam melakukan panen padi, namun hal itu tak membuat para petani serta merta mengikuti perkembangan zaman, sebab kebiasaan saling bantu itu lebih terlihat upaya kerjanya.
Seperti biasa, mereka para pertani yang hendak melakukan panen padi mendatangi sejumlah rumah warga yang juga merupakan profesi petani, dengan maksud mengundang untuk membantu panen padi. Memang hal ini sudah jadi kebiasaan mereka untuk saling mengundang di saat waktu panen padi telah tiba.
Pagi-pagi mereka berbondong-bondong saling jemput dan mengingatkan agar bertemu langsung di sawah, para petani membawa sabit masing-masing dan membawa alat pemukul padi. Sembari menyabit dan sebagian ada yang memukul padi tersebut hingga terpisah dari dedaunannya. Kehadiran mereka menunjukkan rasa komitmennya dalam memenuhi ajakan petani yang hendak memanennya.
Menurut Masudi, Warga Dusun Sabung-bung, Desa Pancor, Kecamatan Gayam, budaya tersebut ternyata lebih seru, bahkan masyarakat masih antusias membantu walaupun tidak diupah dengan uang yang besar.
“Mereka datang saling bantu, tentunya bergantian, tinggal menunggu kapan waktu panen petani yang lainnya,” ujarnya, Minggu (13/03/2022).

Walaupun hanya diupah dengan makan bareng, Masudi menilai tradisi khas masyarakat petani di Pulau Sapudi lebih bisa dikenang.
“Seperti biasa, ada jam istirahat untuk makan bareng, biasanya tuan rumah menyediakan menu bervariasi untuk dimakan bersama,” jelas Masudi/
Masudi berharap, agar upaya ini terus dijaga, sebab sangat jarang para petani yang menjaga tradisi saling bantu-membantu ini. Bahkan menurutnya, petani lebih banyak membayar pekerja untuk mengurusinya.
“Biasanya istilahnya tebesen (dipasrahkan, red) dengan membayarkan uang kepada pekerja, sehingga terkesan sendiri-sendiri,” tukasnya. (san/zar)