RUMAH SAKIT (RS) di wilayah Gresik Selatan memang produk janji kampanye dan visi-misi Pemerintah Gresik Baru. Secara otomatis, pembangunan RS Gresik Selatan yang dinamakan RS Sehati itu, mau tidak mau harus dimasukkan ke dalam dokumen perencanaan dan dianggarkan pembangunannya di dalam APBD Gresik. Konsekuensi logis ketika masyarakat memilih pemimpin, maka secara otomatis programnya harus direalisasikan.
Dalam pandangan penulis, program RS Sehati yang sudah proses pembangunan ini, tidak begitu efektif di kala fiskal daerah sedang mengalami defisit yang begitu parah. Tidak hanya soal defisit, masalah utamanya adalah Pemerintah Daerah belum bisa menyulap keberadaan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ibnu Sina menjadi RS yang berkualitas dalam pelayanan prima.
Beberapa waktu yang lalu, mesin CT Scan di RSUD Ibnu Sina rusak dalam waktu yang cukup lama. Proses maintenance mesin tersebut membutuhkan waktu yang lama. Sedangkan membeli baru biayanya bisa mencapai Rp 12 milyar lebih. Alhasil, pasien harus dirujuk ke RS lain untuk proses CT scan. Kemudian hasilnya dibawa kembali lagi ke RSUD Ibnu Sina. Bayangkan waktu wara-wiri si pasien dan biaya mobilitasnya. Ini yang dinamakan pelayanan tidak efektif.
Bagaimana mungkin dokter bisa mendiagnosa suatu kasus penyakit tertentu tanpa didahului CT scan? Maka, investasi mesin dan alat adalah bagian dari peningkatan pelayanan. Celakanya, Pemerintah Daerah lebih memilih opsi pembangunan fisik baru di RSUD Ibnu Sina daripada investasi mesin canggih yang sangat dibutuhkan untuk mempercepat pelayanan kesehatan. Dalihnya, menambah ruang rawat inap akan menambah pendapatan bagi RSUD Ibnu Sina sebagai RS rujukan.
Tombak utama kesehatan adalah pelayanan dokter, obat, baru kemudian fasilitas fisik berupa alat dan bangunan gedung. Faktanya, pelayanan dokter dan obat saja masih belum beres. Penulis mendapati beberapa aduan masyarakat.
Ada pasien rawat inap yang tidak dikunjungi oleh dokter sama sekali. Kemudian ketersediaan obat juga minim di RSUD ini sehingga beberapa pasien cukup diberi resep untuk membeli obat di luar RSUD Ibnu Sina.
Ada pula keluarga pasien yang kecewa dengan sistem antri tunggu dan rawat jalan di RSUD ini yang terkesan lemot dan tidak cepat tanggap. Ada juga pasien yang berjam jam di ruang UGD namun tidak kunjung mendapatkan kamar. Pola seperti ini lah yang membuat pelayanan RSUD Ibnu Sina tidak kunjung naik kelas. Fasilitas pelayanan belum sepenuhnya tuntas di RSUD ini.
Maka, mindset mengutamakan pembangunan fisik harus dikesampingkan sejenak dan bergeser ke mindset mengutamakan kualitas pelayanan dasar dulu. Pelayanan dasar yang seharusnya dituntaskan dulu adalah pelayanan dokter terhadap pasien, ketersediaan obat, dan ketersediaan alat, revolusi sistem dan manajemen yang ramah pasien, baru lakukan pembangunan fisik untuk menunjang ruang-ruang lain yang dibutuhkan.
Patut disayangkan, ini sudah janji politik. Dan masyarakat sudah disuguhkan dengan bangunan baru RS Sehati di Gresik Selatan yang progresnya baru mencapai 8% dengan anggaran total Rp 59 miliar dari APBD Gresik.
Hemat penulis, kualitas yang lama saja belum baik, kenapa bangun yang baru yang kualitasnya belum tentu juga terbukti baik?
M SYAHRUL MUNIR
Ketua FPKB DPRD Gresik
Komentar telah ditutup.