oleh :
M SYAHRUL MUNIR
ENTAH bagaimana?. Malam hari, hati penulis terpaut kepada Abdul Muhaimin Iskandar (Gus Muhaimin), Ketua Umum (Ketum) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Partai politik (parpol) yang menjadi ladang khidmat penulis sebagai Anggota Fraksi PKB di DPRD Kabupaten Gresik.
Kiranya sudah seringkali penulis mendengarkan pidato Gus Muhaimin setiap kali bertemu di kegiatan partai secara langsung. Namun, penulis tak pernah bosan. Karena, penulis belajar dan mendengarkan kata perkata yang diucapkan sebagai pembelajaran bagi penulis sebagai kader muda dari Partai yang dipimpinnya.
Sebagai seorang pelajar politik, tentu penulis juga mengamati ragam pidato yang disampaikan oleh tokoh-tokoh lain pimpinan parpol. Penulis berkesimpulan bahwa Ketum PKB- lah yang menurut penulis mempunyai jam terbang pidato tanpa teks paling tinggi.
Dan sebagai pelajar politik pula, penulis pun merasakan bahwa materi, wawasan yang luas, dan visi seorang pemimpin lah yang bisa mempengaruhi kualitas pembicaraan seseorang. Ya meskipun ini pernyataan subjektif penulis, namun bisa lah kalau sekedar dibanding-bandingke.
Namun ini bukan hanya soal pidato, tapi soal visi dan gagasan. Gagasan seorang Gus Muhaimin adalah menempatkan gagasan para Kiai sebagai ruh perjuangannya di politik. Ini yang terkadang menjadi cambuk bagi penulis sebagai pelajar politik yang seringkali lebih mengutamakan kepentingan pribadi dibandingkan kepentingan masyarakat luas.
Adapun gagasan para Kiai yang Gus Muhaimin bawa. Pertama adalah gagasan Tashwirul Afkar yakni kebangkitan pemikiran, Kedua, Nahdlatuttujjar yakni kebangkitan ekonomi, dan Ketiga, Nahdlatul Wathon yakni pengelolaan negara dan pemerintahan.
Mengapa Gus Muhaimin melandaskan pemikiran dan gagasan kepada para masyayikh? Ya tentu karena cicit Pendiri NU yakni Mbah KH. Bisri Syamsuri. Sehingga, ruh perjuangan dan pondasi pemikirannya tentu lebih matang dan memang “dari sananya” sudah berjiwa demikian. Kalau mengutip kelakar Gus Muhamin, “sebelum lahir juga sudah NU”.
Uniknya lagi yang penulis pelajari dari Gus Muhaimin jarang sekali menyampaikan dan mengaku sebagai cicit pendiri NU. Ini yang menjadi pembelajaran penting juga bagi penulis selaku pelajar politik bahwa ketulusan itu dimulai dari tidak sering “ngaku-ngaku”. Gus Muhaimin lebih sering menyampaikan gagasan-gagasan kenegaraan dari pada mengaku dan menyampaikan sebagai cicit dari ulama besar pendiri organisasi keagamanan terbesar di Indonesia yang bernama Nahdlatul Ulama. Ini pembelajaran yang sangat berat. Karena sebagai politisi, penulis merasakan bahwa seringkali butuh “ngaku-ngaku” agar diakui masyarakat atas kinerja dan prestasi kita dalam berpolitik.
Soal Pencapresan 2024, tentu penulis sebagai pelajar politik dari daerah harus tegak lurus atas instruksi partai. Begitulah cara kerja seorang kader yang notabenenya adalah prajurit. Ya memang dimanapun harus mengikuti instruksi. Namun, terlepas soal elektabilitas, popularitas, dan likeabilitas seorang Gus Muhaimin, penulis juga awalnya sempat bertanya dalam hati, “kenapa sih Gus Muhaimin maksa banget mau nyapres?. Padahal kayaknya juga gak mungkin jadi. Di medsos kalah, modal kapital juga pasti kalah kaya dengan pendiri parpol lain yang punya stasiun tv sendiri.” Namun seiring waktu, atas konsistensi beliau hingga saat ini, saya pun mempelajari bahwa pasti ada motivasi di belakangnya selain soal kekuasaan.
Setelah mengikuti dari pidato ke pidato Gus Muhaimin, terakhir ketika Gs Muhaimin mengunjungi daerah penulis yakni di Gresik pada 20 Maret 2023 lalu, penulis pun berkesimpulan bahwa Gus Muhaimain termotivasi atas gagasan para masyayikh. Maka, wejangan 99 kyai khos Jawa Timur pada 23 Februari yang lalu tentu menjadi pembakar semangat dan tidak mungkin bisa menyurutkan semangat beliau untuk berjuang merebut tiket sebagai Capres. Ya memang serasa tidak mungkin, tapi inilah motivasi, sebuah spirit yang tidak bisa diukur. Maka setelah acara itu, Gus Kautsar dari Ploso yang saat itu berada di samping Gus Muhaimin semakin membakar semangat dengan menyampaikan untuk mematuhi dawuh 99 kyai khos, “Dawuhe Kiai budal yo budal, tabrak yo tabrak”, dan tagline yang ramai setelah itu adalah “Budal Gus”.
Saat di Sidayu Gresik, bertepatan di Ponpes Modern Sunanul Muhtadin, kebetulan Gus Muhaimin transit karena akan menghadiri Haul Akbar di Ponpes Sunan Drajat. Gus Muhaimin menyatakan bahwa dari kalangan kader NU, satu-satunya yang berani secara terang-terangan menyatakan untuk mencalonkan diri sebagai Presiden. Dan secara fair, penulis akui memang benar. Sebab, tidak ada kader NU lain yang berani menyatakan secara terang-terangan.
Dalam hati penulis terheran-heran,”motivasi macam apa Gus Muhaimin ini?”. Penulis jadi teringat Gus Dur, terlepas berita konflik beliau dengan Gus Muhaimin, bahwa sebagaimana yang diceritakan oleh Ahmad Tohari, Gus Dur berkata, “Kiai, apa saya kuat jadi Presiden?” Lalu pertanyaan Gus Dur itu dijawab oleh kiai, “Tapi memang sampean yang bakal menjadi Presiden.” Berawal dari perkataan jadilah kenyataan.
Akhirnya, penulis menemukan jawaban mengapa Gus Muhaimin tak henti-hentinya untuk tetap berjuang dari daerah satu ke daerah yang lain meskipun dalam kondisi yang serba terbatas? jawabannya adalah karena Spirit Sang Kiai.
Hatiku bersamamu Gus Ketum, Guru Politik kami, Matur Nuwun, Semangatmu menginspirasi kami!
Pelajar Politik yang sedang Bersekolah di DPRD Gresik
Komentar telah ditutup.