GRESIK, Berita Utama– Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) timbulan sampah di Indonesia mencapai 18.893.843,32 ton/tahun. Namun, sampah yang terkelola masih 77.39%. Artinya, masih jauh dari target Kebijakan Strategi Nasional (Jakstranas) dimana pada tahun 2025 target sampah terkelola mencapai 100 %.
Untuk itu, PT Petrokimia Gresik (PG) perusahaan Solusi Agroindustri anggota holding Pupuk Indfonesia meluncurkan program Eco-Dropbox kerjasama dengan PT Rekosistem sebagai terobosan untuk pengelolaan sampah di lingkungan perusahaan. Inovasi tersebut sudah berlaku di negara maju seperti Jerman yakni membuang sampah menjadi cuan.
“Petrokimia Gresik sebagai industry manufaktur dan salah satu roda penggerak perekonomian bangsa, tentu tidak dapat lepas dari sisa kegiatan usaha. Petrokimia Gresik selalu comply dalam melaksanakan kewajiban pengelolaan sisa kegiatan usaha guna mencegah terjadinya pencemaran lingkungan. Program Eco-Dropbox menjadi salah satu wujudnya,” ujar Direktur Utama (Dirut) PG, Dwi Satriyo Annurogo dalam siaran persnya pada Selasa (28/2/2023).
Ditambahkan, program Eco-Dropbox adalah salah satucara yang dilakukan Insan Petrokimia Gresik untukmemperingati Hari Peduli Sampah Nasional. Perangkat Eco-Dropbox, yang bernama Waste Station sementara akan dipasang di lingkungan perusahaan sebagai pilot project. Kendati demikian, tidak menutup kemungkinan ke depan akan dikembangkan untuk masyarakat dengan melibatkan Pemerintah Daerah setempat.
“Kami menyediakan 5 Waste Station yang diletakkan di area perusahaan. Bagi karyawan yang mau memilah sampah, dan kemudian memasukkannya ke dalamWaste Station yang terletak di area perusahaan sesuai ketentuan, mereka akan mendapatkan dana e-wallet. Ini akan menjadi solusi untuk memperbaiki system pengelolaan sampah lebih baik dan efisien,” tandas Dwi Satriyo.
Teknisnya, karyawan pertama kali harus memilah antara sampah anorganik dan minyak jelantah. Sampah anorganik yang dimaksud antara lain plastik, kertas, kaca, dan sampah berupa perangkat elektronik (e-waste) seperti handphone rusak, serta sampah berbahan logam atau metal. Setelah selesai dipilah, pastikan sampah tersebut bersih, dan kemudian dikemas dalam wadah tertutup sehingga tidak tercecer.
Kedua, karyawan harus membuka aplikasi Rekosistem yang dapat diunduh dari Playstore atau App Store. Selanjutnya memilih Drop-in dan ikuti proses serta melengkapi data. Tahapan ketiga dan keempat, karyawan harus menuliskan Waste-ID di setiap kemasan dan memfotonya. Terakhir, karyawan menyetorkan sampahnya di Waste Station terdekat. Sampah-sampah tersebut bernilai Rp 800 per kilogram yang reward-nya akan otomatis masuk ke dalam saldo e-wallet.
Upaya tersebut, sambung Dwi Satriyo, menjadi langkah nyata perusahaan untuk meminimalisasi dampak sampah. Karena, sampah tidak hanyameninggalkan masa padat, tapi juga menghasilkan gas Emisi Rumah Kaca jika tidak dikelola dengan baik.
CUAN. SEVP Operasi PG, I Ketut Rusnaya (dua dari kiri), Ketua PIKA PG, Atik Widiati (empat dari kiri), dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gresik, Sri Subaidah (dua dari kiri) saat meresmikan Waste Segregation.
Komentar telah ditutup.