GRESIK, Berita Utama– Permasalahan sampah menjadi isu nasional. Untuk itu, bertepatan dengan Hari Bumi tahun 2026, Fraksi PKB DPRD Gresik menggelar dialog publik bertajuk taubat ekologi dengan menghadirkan narasumber Direktur Ecoton, Prigi Arisandi, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gresik Sri Subaidah dan Ketua DPRD Gresik, M Syahrul Munir, Rabu (22/04/2025).
“Ada 6 isu yang menjadi navigasi dari PKB sebagai green party.. Salah satu yang menjadi prioritas yakni lingkungan. Ada expectasi dari masyarakat, sehingga isu lingkungan dari FPKB untuk mempertajam kerja pemerintah,”ujar Ketua FPKB DPRD Gresik, Imron Rosyadi.
Pihaknya berharap dengan adanya kegiatan tersebut yang didedikasikan untuk masyarakat karena potret kerja terkait lingkungan masih banyak yang perlu dipercakapkan.
“Kami berharap kualitas lingkungan hidup di Gresik semakin baik,”ucapnya.
Sementara itu, Direktur Ecoton Prigi Arisandi memaparkan bahaya sampah plastik. Sebab, remahan plastik dalam bentuk mikroplastik hingga nanoplastik juga sudah masuk dalam kandungan darah. Termasuk masyarakat Indonesia sebagai pengguna plastik yang masuk terbesar di dunia.
‘Indonesia dan Malaysia paling banyak makan plastik,”paparnya.
Karena darah mengalir ke seluruh jaringan organ tubuh, maka mikroplastik masuk ke organ vital manusia. Termasuk ke otak manusia.
“Sperma manusia juga sudah tercemar mikroplastik,’imbuh dia.
Sementara Kepala DLH Gresik Sri Subaidah menjelaskan 317 outlet atau toko modern di Gresik sudah tidak menggunakan kantong plastik.
Pihaknya mengaku berdasarkan data nasional, sampah sisa rumah tangga masih sangat besar di Indonesia. Selain itu, pihaknya masih kesulitan untuk membangun tempat pembuangan sampah (TPA) karena kesulitan mendapatkan lahan dengan adanya penolakan masyarakat.
“Gunungan sampah di TPA Ngipik sekitar 1 juta ton lebih,”jelas dia.
Selain itu, pihaknya masih kekurangan armada pengangkut dari tempat penampungan sementara (TPS) ke tempat pembuangan akhir (TPA).
“Pada tahun 2028 nanti, ada pengurangan sampah karena kita kerjasama dengan mengirim sampah ke TPA Benowo Surabaya untuk listrik,”papar dia.
Sedangkan Ketua DPRD Gresik M Syahrul Munir menjelaskan problem utama dalam persampahan yakni kesadaran masyarakat. kesadaran mengelola sampah, kesadaran dalam menghasilkan sampah bahkan kesadaran menghasilkan kebijakan anggaran dalam urusan persampahan ini.
“Persoalan lingkungan di Gresik isu klasik meningkatnya volume tanpa diimbangi dengan kemampuan pengelolaan. Kesadaran masyarakat berkaitan erat,”papar dia.
Program persampahan harus bisa menyentuh lapisan level rumah tangga, penanganan sampah dibarengi entitas yang lain. Sampah bisa diuraikan melalui atau menjadi pakan ternak, pupuk tanaman.
“Memang butuh kesabaran dan kesadaran. Saya mencoba sendiri di rumah. Sampah sisa makanan dipilah untuk saya berikan ke ayam dan ikan yang sengaja saya pelihara. Sedangkan sampah non organik di pilah. Sebenarnya, kalau sampah sisa makanan bisa untuk pakan ternak, sangat besar efesiensinya,”ulas dia.
Syahrul juga mengapresiasi pemerintahan desa yang sudah bisa menyelesaikan sampah ditingkat desa melalui TPS3R. Misalnya, Desa Randuboto Kecamatan Sidayu.
“Seharusnya bisa melalui dana desa. Tetapi, dana desa sudah habis. Makanya, pada Perubahan APBD Gresik tahun 2026 ini, kami akan konsen membantu itu. Karena, ini menjadi isu nasional juga,”pungkas dia.
Peringati Hari Bumi, FPKB DPRD Gresik Gelorakan Taubat Ekologi

