GRESIK, Berita Utama – Kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) didorong untuk memahami visi dan misi arah pergerakan secara esensial dan substansial. Sehingga, mampu menerjemahkan nilai-nilai yang akan diaktualisasikan pada masyarakat serta kehidupan sehari-hari.
Hal itu disampaikan oleh Makmun, mantan sekretaris umum PC PMII Gresik periode tahun 2009-2010 saat menjadi pemateri dalam pelantikan Pengurus Komisariat PMII Akar Bumi STAI Al-Azhar Menganti dengan tema “Aktualisasi Nilai Aswaja Sebagai Landasan Bergerak Mahasiswa” yang digelar di Aula SMK Al-Azhar Menganti, Minggu (21/05/2023).
“Selanjutnya, tugas alumni, setelah kader banyak itu nantinya dibawa ke mana? Kemudian, bagaimana mengurai dari substansi nilai-nilai keaswajaan yang harus kita aktualisasikan ke kehidupan sehari-hari. Mulai dari Tawazun atay bertindak seimbang, Tawassuth atau moderat), Tasamuh atau toleran, I’tidal atau adil. Saya mengambil yang keadilan untuk didiskusikan saat ini,” ucap dia.
Makmun yang telah menjabat sebagai Komisioner KPU Gresik dua periode tersebut menekankan, PMII perlu melakukan pengujian laboratorium bagi lingkungan internalnya dalam rangka memperjuangkan kesejahteraan masyarakat yang berkeadilan. Dengan berlandaskan dari dua teori, seperti relevansi intelektual dan relevansi sosial sebelum mengaktualisasikan pergerakannya di tengah-tengah masyarakat.
” PMII itu sakjane (sebenarnya-red) penting atau gak?Kalau berbicara penting, penting buat apa? Itu yg namanya disebut dengan relevansi intelektual. Kalau itu tidak menyentuh real persoalan masyarakat, maka PMII tidak ada manfaatnya atau lewat,” tambah dia.
Selanjutnya, uji teori yang kedua yakni relevansi sosial. Makmun kembali mengajukan beberapa pertanyaan pemantik untuk menggugah kesadaran para kader Pengurus Komisariat PMII Akar Bumi STAI Al-Azhar Menganti.
“Nilai-nilai yang diyakini PMII, apabila tidak bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman saat ini, maka lewat. Apakah kita mampu menjadi bagian di tengah masyarakat untuk mengentaskan persoalan di masyarakat?,” tanya dia.
Dicontohkan, menjadi alumni diharuskan memiliki visi yang jelas serta bisa memahami problem sosial, sehingga diharapkan mampu menyelesaikan dengan berbagai solusi yang jelas, terarah, dan terukur.
Sementara itu, Ketua Majelis Pembina Cabang (Mabincab) PMII Gresik Musa mengambil dua poin penting, bagaimana aktualisasi dari nilai-nilai Aswaja.
“Kita harus memahami dulu nilai-nilai yang terkandung dalam Aswaja, seperti kemanusiaan dan pluralisme. Bagaimana tidak membedakan suku, agama, dan ras. Setidaknya sahabat-sahabat, jangan berbicara aktualisasi, kalau tidak paham nilai-nilainya. Kita ke depan, lebih substansial. Lebih esensial dalam menerjemahkan sebuah nilai-nilai,” jelas dia.
Sedangkan, Ketua Majelis Pembina Komisariat (Mabinkom) PMII Akar Bumi STAI Al-Azhar Menganti Miftakhul Riza mengatakan bahwa, meskipun sudah menjadi alumni hal itu tidak menjadi penghambat untuk terus melanjutkan perjuangan dan pergerakan.
“Meskipun sudah ikut di organisasi apapun lainnya, secara esensi kita masih sama. Yang menjadi besar harapan dari proses pelantikan ini, bagaimana mengembalikan komisariat menjadi basis pergerakan, dan basis konsolidasi. Tetap kritis, dan lanjutkan perjuangan,” pungkas dia.

