GRESIK, Berita Utama – Selain jatah pupuk subsidi yang lebih kecil dibandingkan dengan pengajuan sesuai dengan rencana dasar kebutuhan kelompok (RDKK), distribusi pupuk subsidi di sejumlah desa di Gresik kerap datang terlambat ketika petani sangat membutuhkan. Kondisi ini berpengaruh terhadap tanaman. Karena pertumbuhannya menjadi tidak optimal.
Ironisnya, realitas tersebut seolah masih menjadi ‘penyakit bawaan’ dalam permasalahan pupuk subsidi dari pemerintah. Seperti yang dikeluhkan oleh Maulana Siroj (39), petani padi asal Dusun Tempel, Desa Wedani Kecamatan Cerme.
” Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) desa sudah mengajukan usulan termasuk dengan melakukan pendataan. Petani desa jga sudah berusaha mendata dan sudah mengajukan ke kabupaten. Itu (pupuk subsidi-red) datangnya sering terlambat. Padahal, kami sangat membutuhkan,” keluh ia kepada beritautama.co, Minggu (05/02/2023).
Ditambah lagi mahalnya harga pupuk membuat petani desa semakin tercekik. Itu juga belum termasuk biaya operasional perawatan tanaman padi di sawah, dan pengeluan untuk biaya lainnya.
“Harapan saya jangan terlalu mahal, dan stok bisa tercukupi. Ya kayak ready stok gitu lah. Untungnya, proses menunggu kedatangan pupuk tidak lama,” tambah dia.
Terpisah, Kepala Dinas Pertanian (Distan) Gresik Eko Anindito Putro mengatakan bahwa proses verifikasi atas data yang diajukan membutuhkan waktu cukup lama. Oleh karena itu, diharapkan kepada petani agar melakukan pendataan sejak jauh hari sebelum tiba waktu untuk dibutuhkan.
“Dari Gapoktan kalau setor data jangan mendadak. Karena ada proses administrasi, kurang lebih sekitar satu bulan atau satu bulan setengah. Verifikasinya juga menyesuaikan dengan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 10 tahun 2022,” jelasnya.
Ditambahkan, penyaluran pupuk bersubsidi kepada petani sudah diatur dan diawasi langsung oleh negara. Sehingga, perlu perekapan data sejak jauh hari sebelum dilakukan verifikasi data.
“Sebelum dibutuhkan, komunikasi dengan teman penyuluhan atau BPP di Kecamatan. Sehingga bisa segera diproses, kemudian ketika dibutuhkan pupuknya sudah tersedia. Insyaallah di Cerme sudah pernah saya kumpulkan di BPP untuk terus melakukan Koordinasi dengan petani,” tandas dia.

