GRESIK, Berita Utama- Beberapa pekerjaan proyek infrastruktur yakni peningkatan jalan dengan betonisasi, dikhawatirkan tidak akan selesai tahun 2023 ini. Penyebabnya, kontraktor kesulitan membeli ready mix concrete atau beton siap pakai dari perusahaan penyedia yang memiliki batching plant sesuai rekomendasikan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Gresik.
“Kami khawatir pekerjaan tidak selesai sesuai dengan kontrak karena pemborong kesulitan untuk mendapatkan beton siap pakai,” ujar Anggota Komisi III DPRD Gresik, H Ubaidillah setelah sidak bersama rombongan, Selasa (24/10/2023).
Dijelaskan, ada beberapa proyek peningkatan jalan dengan betonisasi yang disidak oleh rombongan Komisi III DPRD Gresik. Yakni proyek peningkatan Jalan Bringkang – Lampah dengan pagu anggaran sebesar Rp. 2, 9 miliar yang dimenangkan CV Bintang Karya Indonesia dengan alamat Jl Sunan Giri Gang XV M No. 04 RT. 014 RW. 004 Kecamatan Kebomas, Gresik setelah menawar sebesar Rp 2,5 miliar.
Kemudian, proyek peningkatan jalan Boboh-Benowo dengan pagu anggaran sebesar Rp 3,9 miliar yang dimenangkan CV Wijaya dengan alamat Jl. Kusuma Bangsa No. 44B Lamongan yang menawar seharga Rp 3,4 miliar.
Selanjutnya, proyek peningkatan jalan Domas – Gluranploso dengan pagu anggaran sebesar Rp 3,9 miliar yang dimenangkan CV Bintang Karya Indonesia dengan alamat Jl Sunan Giri Gang XV M No. 04 RT 014 RW 004 Kecamatan Kebomas, Gresik setelah menawar sebesar Rp 3,2 miliar.
Hal senada dikatakan oleh Ketua Komisi III DPRD Gresik, Sulisno Irbansyah. Menurut pengakuan dari pemborong di lapangan, sambung dia, perusahaan penyedia beton siap pakai kewalahan pesanan sehingga membagi produknya untuk berbagai proyek di daerah lain.
“Tapi, pemborong tetap mengupayakan bisa selesai tepat waktu. Selama ini, penyedia ready mix concrete membagi produknya ke pemesan,’papar dia.
Anggota Komisi III DPRD Gresik lainnya, Abdullah Hamdi menyatakan, bahwa, progress pekerjaan masih tidak sesuai dengan manajemen konstruksi. Dicontohkan proyek peningkatan jalan Domas – Gluran ploso progresnya masih 12.17 % dari rencana sesuai manajemen konstruksi 29.26 %.
“Masih ngandol 17 persen. Padahal, serah terima pekerjaan pada 20 Desember 2023,’tandas dia.
Begitu juga proyek peningkatan Jalan Bringkang – Lampah yang progressnya masih 20.94 % dari rencana sesuai manajemen proyek 31.9 % sehingga minus 4.56 %. Termasuk proyek peningkatan jalan Boboh-Benowo yang progressnya masih 29.33 % yang seharusnya sesuai dengan manajemen proyek 38.50 % atau minus 9,17 %.
Ditambahkan, salah satu yang menjadi kendala yakni Pemkab Gresik hanya memberikan rekomendasi pada 6 perusahaan penyedia ready mix concrete yang memiliki batching plant atau tempat yang dikhususkan untuk memproduksi atau mengolah beton siap pakai.
“Padahal, enam batching plant yang direkomendasi tak hanya melayani untuk pemesanan dari Gresik. Jadi rebutan juga. Karena dibagi untuk Surabaya, Gresik, Sidoarjo dan Mojokerto,”tandas dia.
Ditambahkan Hamdi, betonisasi jalan tak bisa dilakukan dengan molen kecil. Sebab, kualitasnya tidak bisa dipertanggungjawabkan dibandingkan langsung dari batching plant yang sudah direkomendasikan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Gresik.
“Panjang jalannya hampir 1,2 kilometer. Tak bisa kalau diakali dengan menggunakan molen kecil. Harus dari pabrikan,”pungkas dia.

